Langsung ke konten utama

BAGAIMANA ANDA INGIN DIKENANG

Kurang seratus tahun yang lalu, seorang pria membaca surat kabar pagi. Dia terkejut dan ketakutan membaca namanya pada kolom duka cita. Koran tersebut salah menuliskan nama orang yang meninggal.
Reaksi pertamanya adalah terkejut. Apakah saya masih hidup atau sudah mati ?
Setelah tenang reaksi keduanya adalah menyelidiki apa yang dikatakan orang tentang dirinya.
Berita kematian tertulis, “ Telah meninggal raja dinamit” dan “ dia adalah pedagang kematian.”
Orang ini adalah penemu dinamit dan ketika membaca kata-kata “pedagang kematian,” dia mengatakan pada dirinya sendiri beginikah cara saya dikenang ?” Dia merasa sedih dan tidak ingin dikenang dengan cara demikian.

Sejak hari itu dia bekerja untuk perdamaian. Namanya adalah Alfred Nobel dan sekarang dikenal dengan hadiah nobel perdamaian yang terkenal itu.

Sebagaimana Alfred Nobel merasa sedih dan mendefinisikan kembali nilai-nilainya, maka kita seharusnya kita mundur selangkah dan melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan Alfred Nobel.

Apakah yang akan Anda tinggalkan ? Bagaimana Anda ingin dikenang ? Apakah orang-orang membicarakan kebaikan Anda ? Apakah Anda ingin dikenang dengan cinta dan rasa hormat ? Apakah Anda akan dilupakan ?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TEMBILAHAN JAMAN DULU

Soeharto Presidenku : "Presiden Yang Selalu Tersenyum dan Melambaikan Tangan"

Apakah Soeharto benar-benar tidak bisa dimaafkan atas segala dosanya? Apakah kita bangsa yang tidak beragama sehingga untuk memberi maaf kepada orang yang telah berperan besar dan berjasa dalam membangun Bangsa ini? Dimana rasa kemanusiaan kita? Soeharto Keep My President.

KUMPULAN KATA BIJAK ISLAM TENTANG UCAPAN & PERGAULAN

“Aku jamin rumah di dasar surga bagi yang menghindari berdebat sekalipun ia benar, dan aku jamin rumah di tengah surga bagi yang menghindari dusta walaupun dalam bercanda, aku jamin rumah di puncak surga bagi yang baik akhlaknya” (HR Abu Daud) “Aku tidak pernah berdialog dengan seseorang dengan tujuan aku lebih senang jika ia berpendapat salah” (Imam Syafii) “Kata – kata yang lemah dan beradab dapat melembutkan hati dan manusia yang keras” (Hamka) “Barangsiapa memperbanyak perkataan, maka akan jatuh dirinya. Barangsiapa jatuh dirinya, maka akan banyak dosanya. Barangsiapa banyak dosanya, maka nerakalah tempatnya” (Al Hadits) “Sedikit berbicara adalah sebuah hikmah yang amat besar. Oleh karena itu, hendaklah kalian banyak diam, karena banyak diam adalah satu ketenangan hidup dan satu faktor yang dapat meringankan dosa” (Al Hadits) “Bahagia sekali orang – orang yang menahan lidahnya daripada berkata – kata secara berlebih – lebihan dan mendermakan hartanya yang lebi...